Bagi mahasiswa, wisuda merupakan hari bahagia. Hari di mana kita bisa membuat orang tua bangga sekaligus membuktikan diri bahwa kita bisa bertanggung jawab atas keputusan yang kita pilih. Jangan heran kalau euforia wisuda kadang suka aneh-aneh bahkan sampai ada yang mengundang semua keluarganya untuk datang saat prosesi geser tali toga.
Namun, ada kisah sedih nan haru soal wisuda yang tengah viral di media sosial. Seorang ayah menggantikan anaknya untuk diwisuda karena putrinya telah meninggal dunia.

Bersama dengan para wisudawan, seorang Ayah menggantikan anaknya yang telah meninggal dunia untuk mengambil ijazah





Ayah, anakmu wisuda.. • Momen paling mengharukan di acara wisuda hari kedua. Rina muharrami, mahasiswi Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry yang memyelesaikan sidang skripsi tanggal 24 januari 2019, beberap hari kemudian tanggal 5 februari rina sang sarjana muda berpulang kerahmatullah karena sakit. Wisuda adalah prosesi penyematan gelar sarjana, puncak pencapaian seseorang dalam menempuh pendidikan tinggi. Wisuda dan sarjana adalah anugerah kebanggaan bagi orang tua dari anak mereka. Orang tua berjuang dan berkorban demi kelanjutan pendidikan anaknya, sementara sang anak berjuang sepenuh hati segenap tenaga merengkuh cita-cita sarjana selayaknya harapan orang tua. Dan wisuda, sekali lagi adalah puncak pencapaiannya. Dimana anak dengan bangga mempersembahkan kesuksesan untuk orang tuanya, bersama menikmati kebahagiaan. Tapi tidak bagi ayah rina, beliau datang mewakili anaknya menjadi sarjana. • -------------- • Anakku, hari ini Ayah datang ke acara wisudamu bersama ayah-ayah temanmu yang lain. ayah yang lain datang untuk melihat anaknya jadi sarjana, sementara ayah datang untuk menggantikanmu mengambil tanda sarjana dari kampusmu, nak. Sebenarnya Kaki ayah tak lagi kuat, tapi ayah tegapkan langkah menaiki anak tangga untuk maju mengambil ijazahmu. Hari ini ayah berdiri di depan teman-temanmu. Ayah sedih nak, karena seharusnya kita ada disini bersama. Tetapi Ayah bangga padamu, kamu itu hebat dan mampu meraih impian yang besar. Dan kelak ayah akan menceritakan kepada warga di desa kita bahwa anak ayah seorang sarjana. Seketika terbayang di pelupuk mata engkau datang tersenyum sangat manis dengan baju wisuda yang sangat kau idam-idamkan itu. Kamu seakan membisikkan ditelinga ayah: Ayah, anakmu wisuda... • --------- • Alfatihah untuk rina #uin #wisuda #sarjanamuda #uinar #uinarraniry @kabaraceh @acehinfo @infobandaaceh @kampusuinid
A post shared by UIN AR-RANIRY BANDA ACEH (@uin_arraniry_official)

Ada yang berbeda dari upacara wisuda di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh yang terselenggara kemarin (27/2). Bukan hanya kebahagiaan yang terpancar dari mahasiswa dan para keluarga wisudawan, melainkan juga sedih dan haru. Terutama saat seorang pria paruh baya naik ke panggung tanpa berseragam lengkap seperti wisudawan lain. Berkemeja rapi, bercelana hitam, dan memakai peci, pria bernama Bukhari tersebut menggantikan anaknya mengambil ijazah.

Bukhari merupakan ayah dari Rimma Muharrami, mahasiswi program studi Kimia. Putrinya nggak bisa hadir untuk menggeser tali toga dan mengambil ijazahnya karena telah meninggal dunia.

Rinna Maharrani yang dikenal tekun dan sederhana meninggal dunia 13 hari setelah sidang skripsi karena sakit. Sedih banget sih :'(


Rina meninggal karena tifus via news.detik.com
Melansir web resmi UIN Ar-Raniry, Rinna Muharrami nggak bisa menghadiri wisuda karena telah lebih dahulu dipanggil oleh Yang Maha. Sebelumnya alm. Rina berhasil menyelesaikan sidang skripsi pada tanggal 24 Januari 2019. Barulah 13 hari setelahnya almarhumah mengembuskan napas terakhirnya karena penyakit yang dideritanya. Alm. Rina mengidap penyakit tifus stadium akhir yang juga menyerang syaraf. Telah kurang lebih sebulan alm. Rina melawan penyakitnya, bahkan sempat dirawat di ICU Rumah Sakit Meuraxa, Kabupaten Aceh Besar.
Di mata temannya, alm. Rina dikenal sebagai sosok yang menginspirasi, tekun, dan sederhana. Berasal dari keluarga petani alm. Rina merupakan mahasiswa yang cerdas, tekun, dan berprestasi. Selama kuliah, almarhumah merupakan mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi. Kini dia telah lulus dari kampus dengan IPK 3,51 dan juga tugasnya di dunia untuk bertemu Sang Pencipta.

Demi membanggakan orang tuanya, alm. Rina masih memperjuangkan skripsi meski dalam kondisi sakit. Sedang kita, skripsi direvisi sekali saja ngeluh!


Semangat dong! via www.hipwee.com
Alm. Rina telah mengidap penyakitnya selama sebulan sebelum kematiannya. Fakta ini menunjukkan kegigihannya memperjuangkan kelulusannya. Ia tetep mengerjakan skripsi dan sidang dalam kondisi sakit. Kita seharusnya malu karena sering mengeluh saat skripsinya direvisi terus. Bahkan mungkin ada yang ngambek dan berhenti untuk melanjutkan skripsinya. Skripsi direvisi bukankah hal wajar?
Alm. Rinna patutnya dijadikan teladan juga penyemangat. Kalau dia bisa menyelesaikan kuliahnya dengan segala keterbatasan, maka seharusnya kita yang sehat juga. Jangan banyak ngeluh. Beranjak dari keterpurukan dan ayo garap revisiannya!
Anyway, mari doakan Rina sama-sama semoga husnulkhatimah!

Baca Sumber